Minggu, seperti biasa dihari libur sekolah adalah dimana hari yang ditunggu-tunggu anak sekolahan. Bangun pagi, mandi, sarapan, dan bermain dengan teman-teman yang mereka sudah direncanakan di sekolah sebelum hari libur tiba. Ayunk sesudah sarapan pagi, dia pamit kepada ibunya ingin bermain bola dengan teman-temannya di lapangan, yang jaraknya cukup dekat dengan rumah Ayunk dan teman-temannya.
“Bu,
Ayunk izim keluar main bola di lapangan. Assalamualaikum” Izin Ayunk kepada
ibunya (sambil lari keluar rumah).
“Waalaikumsalam.
Iya, hati-hati. Jangan bertengkar sesama temannya.” Jawab ibu dari ruang dapur,
dan Ayunk mendengarnya dengan samar-samar.
Sebelum
sampai ke lapangan, Ayunk pergi ke rumah teman-temannya terlebih dahulu untuk
menjemputnya. Setelah berkumpul semua baru menuju lapangan dan bermain bola
sepuas mereka.
Dipertengahan
permainan bola, ibu Ayunk datang ke lapangan untuk memberi tahunya, kalau ibunya
ingin pergi ke pasar dan tempatnya lumayan jauh. Jadi sang ibu memberi tahu
Ayunk agar nanti waktu Ayunk pulang ke rumah tidak sibuk mencarinya.
“Ayunk,
Nak, Ayunk, Ayunk.” Ibu berteriak dari sudut lapangan. Sedangkan, Ayunk sedang
asik bermain bola dengan teman-temannya.
“Ayunk,
ibu pergi ke pasar dulu yah.” Lanjut sang ibu dengan teriakannya. Akan tetapi
si Ayunk tetap tidak menggubrisnya. Karena terlalu asik pada permainannya, lalu
ibu pergi dengan keyakinannya bahwa anaknya sudah mendengar suara teriakan
dirinya.
Jam
berputar, terik matahari semakin panas dan mulai memanasi lapangan tentunya
tidak asik lagi untuk bermain bola bagi Ayunk dan teman-temannya. Lelah dan
letih yang dirasakan mereka, jadi Ayunk dan teman-temannya memilih pulang ke
rumah masing-masing.
“Assalamualaikum. Ibu, ibu, ibu.” Teriak Ayunk
dari luar rumah (tidak ada jawaban dari dalam rumah). Sesampai rumah Ayunk
tidak menemui ibunya.
Seperti
anak-anak lainnya jika setelah dari luar dan tidak menemui seorang ibu di dalam
rumah, maka rasa cemas yang menghantui pikiran seorang anak. Sama halnya yang
dirasakan Ayunk saat ini, dia mulai cemas mencari ibunya dan teriak-teriak
sambil manggil nama ibunya.
“Ibu,
Ibu, Ibu.” (teriak Ayunk) sambil mengecek setiap ruangan di dalam rumah.
Kemudian,
Ayunk mencari ibunya dan sambil menanyakan pada tetangga dan orang yang
ditemuinya di jalan. Pertama nanya sama tetangga sebelah rumahnya.
“Assalamualaikum
Bu, lihat ibuku kemana?”
“Waalaikumsalam.
Waduh, ibu ngak lihat Nak. Mungkin ibumu pergi ke Batu Ghundobo.” Jawab ibu
tetangga.
“Terima
kasih Bu.”Ayunk mulai tidak bisa menahan air matanya, tetapi tetap ditahan
walaupun Ayunk tambah merasa cemas dari jawaban tetangganya.
Ayunk
lanjut mencari ibunya, dan bertemu tetangga sedikit jauh dari rumahnya.
“Bu,
bertemu atau lihat ibu saya tidak?” Tanya Ayunk.
“Tidak
Nak, kenapa cari ibunya? Ayunk habis darimana? mungkin ibu Ayunk pergi ke barat
sana (sambil menunjuk tangan si ibu tersebut ke arah barat) menuju Batu
Ghundobo.” Jawab ibu tetangga itu (sambil senyum).
Air
mata Ayunk sudah tidak bisa ditahan lagi, air matanya menetes terus menerus
tanpa henti, dan lanjut mencari ibunya. Selanjutnya bertemu sama seseorang yang
datang dari sawah, tetapi Ayunk kenal
orang itu dan bertanya kepada seorang petani tersebut.
“Permisi
Pak (suara Ayunk sambil sesenggukan), lihat ibu saya?” Tanya Ayunk.
“Oh
tidak Yunk, mungkin ibu Ayunk pergi ke barat sana (sambil menunjuk tangan si
bapak tersebut ke arah barat) pergi ke Batu Ghundobo.” Jawab seorang petani
tersebut (sambil senyum).
Ayunk
nangis, nangisnya tambah keras di pinggir jalan. Setiap bertemu dengan
orang-orang Ayunk selalu menanyakan apakah bertemu atau melihat ibunya. Dan
jawaban orang-orang selalu “Ibunya mungkin pergi kea rah barat sana menuju Batu
Ghundobo.” Ayunk nangisnya tambah keras di pinggir jalan.
Batu
Ghundobo adalah tempat seseorang pergi menyepi dari keriuhan. Cerita Batu
Ghundobo biasanya digunakan untuk menakut-nakuti seorang anak kecil ketika
mencari ibunya, dengan suara intonasi yang sedih. Sehingga anak yang
diceritainya merasakan kesedihan, karena ditinggal ibunya.
Akhirnya,
ibu Ayunk pulang dari pasar dan melihat Ayunk di pinggir jalan menangis. Sang
ibu panik melihatnya nangis sesenggukan di pinggir jalan.
“Ayunk,
Ayunk, kenapa nangis nak?” Tanya ibu Ayunk.
Akan
tetapi Ayunk tidak bisa menjawab karena terlalu sesak sesenggukan akibat
menangis. Lalu ibunya membawa Ayunk pulang. Sesampai di rumah ibu menanyakan
lagi pada Ayunk, kenapa Ayung menangis di peinggir jalan.
“Ayunk
kenapa nangis di pinggir jalan? Berkelahi sama temannya?” Tanya si ibu.
(Ayunk
geleng kepala) lalu menjawab “Ayunk mencari ibu, ibu tidak ada di rumah. Ayunk nanya
tetangga dan orang sekitar rumah, semua menjawab kalau ibu pergi ke arah barat
menuju Batu Ghundobo. Ayunk takut ibu tidak pulang lagi ke rumah.”
“Ya
Allah, ibu kira berantem sama temennya (sambil tersenyum). Makanya kalau orang
tua panggil ataupun berbicara Ayunk segera menemuinya dan dengarkan mereka. Kalau
seperti ini kan jadi salah paham. Ingat yah, lain kali Ayunk lebih menghormati,
menghargai, dan mendengarkan orang tua yah, siapapun dia. Sudah sudah, tidak
usah menangis lagi sekarang ibu kan sudah disini.” Jawab ibu sambil mengelus
kepala Ayunk.
Ayunk
mengangguk dan menjawab “Iya Bu.”
Lalu
Ayunk dan ibunya berpelukan.
Komentar
Posting Komentar